Artikel/Sumber Daya

BANTUAN KEMANUSIAAN vs PEMURTADAN suara masyarakat lokal terhadap bantuan Kemanusiaan gempa bumi di Sumatera Barat




Padang (12 November)

Bencana itu seksi. Semakin besar dampak bencana, semakin besar pula perhatian orang. Ketelanjangan manusia yang berhadapan dengan situasi sulit dalam hidup mengundang orang untuk hadir, menemani, dan mengulurkan tangan. Berbagai pihak dengan bermacam latar belakang terlibat sejak hari pertama bencana hingga beberapa bulan atau tahun setelahnya.

Dalam situasi darurat, tak jarang kepentingan kelompok ataupun pribadi turut terlibat. Rasa kemanusiaan dinodai dengan kepentingan serta ideologi dan keyakinan lain yang menyusup dibalik bantuan.

Memfasilitasi Mahasiswa akan Prasangka & Konflik : Keterbukaan Staf KARINA KWI dalam Merefleksikan Pengalaman Diri

 

Berbicara mengenai Prasangka & Konflik di Indonesia, sangat berhubungan dengan sejarah yang membentuk bangsa ini. Dapat dilacak dari berbagai sumber informasi mengenai Sejarah Indonesia, baik melalui buku – buku, jurnal ataupun makalah seminar, maka kita akan melihat tahun demi tahun yang tidak terlepas dari kekerasan. Ini menandakan bangsa Indonesia yang sudah “akrab” dengan kekerasan.

Bahkan mungkin pengalaman hidup tiap warga negara Indonesia sendiri bisa menguatkan tulisan para pemakalah atau penulis tentang Indonesia. Saya Sasaki Shiraishi dalam bukunya Pahlawan – pahlawan Belia, mencoba untuk mengamati kehidupan bangsa Indonesia dari hal – hal yang terkecil dalam keluarga Indonesia. Hal – hal yang terkecil disini artinya bukan dengan mengamati kebijakan – kebijakan yang termaktub dalam sejumlah peraturan ataupun perundang-undangan, tetapi dengan mengamati dan merasakan langsung apa itu “kehidupan keluarga Indonesia”.

Sebuah Rapat Tahunan KARINA KWI dengan Keuskupan se - Indonesia

oleh Betti Siagian

Sebuah Pertemuan Tahunan yang lebih tepatnya disebut dengan Rapat Tahunan antara KARINA KWI dengan Keuskupan telah berlangsung pada akhir Mei 2009. Sekitar 93 peserta hadir dari seluruh wilayah Indonesia untuk berkumpul dan duduk bersama mendengarkan, bertanya, dan menyimpulkan masing – masing topik pembicaraan.

Selayaknya sebuah rapat, maka perdebatan merupakan hal yang sangat mungkin terjadi dan tak perlu dielakkan. Demikian juga halnya dengan Rapat Tahunan ini. Dibuka oleh Pastor P. Sigit Pramudji, Pr sebagai Direktur Eksekutif KARINA KWI, presentasi mengenai perkembangan KARINA KWI selama 1 tahun terakhir langsung menarik para peserta yang tadinya masih tampak santai dan saling meledek terbawa suasana sesi perkenalan. Mimik dan bahasa tubuh yang serius mengikuti presentasi pembuka. Keseriusan ini  tertuang dalam beberapa pertanyaan yang muncul setelahnya. Mulai dari pertanyaan seputar mandat dari Caritas Internasionalis sampai sumber dana KARINA KWI. Beberapa pertanyaan memang sudah pernah diajukan pada rapat tahunan tahun sebelumnya, namun mengingat keberadaan KARINA KWI yang terbilang masih muda, yaitu 3 tahun, maka hal penyebaran informasi lengkap mengenai gerakan Karitas tentu saja masih perlu diperkuat.

Menyiasati Bencana, Memanfaatkan Jaringan

Pengalaman Komisi PSE Keuskupan Manado menghadapi Gempa Kabaruan & Melonguane

oleh : Aribowo Nugroho & F. Sundoko

Empat bulan lalu, gempa dahsyat berkekuatan 7,4 SR yang terjadi di wilayah Kepulauan Talaud. Kabupaten Kepulauan Talaud terletak di bagian utara Propinsi Sulawesi Utara. Wilayah paling utara Indonesia ini, bisa dicapai dengan penerbangan dan pelayaran dengan kapal ukuran sedang.

Setelah tiga kali peluit berbunyi, Kapal Vallerine yang kami tumpangi bergerak pelan meninggalkan Pelabuhan Manado menuju Pelabuhan Lirung di Kab. Kepulauan Talaud. Bersama penumpang lain, kami akan melewati malam dengan berlayar ke laut lepas menuju daerah terluar Indonesia. Dan panorama Gunung Manado Tua dan Pulau Bunaken yang terhampar di depan anjungan kapal beringsut hilang bersama tenggalamnya matahari.

“Yesus juga Pakai PCM!”

Pelatihan PCM Karitas Keuskupan Regio Sumatra
oleh Ditto Santoso

“Seandainya murid-murid Yesus dulunya menggunakan metode PCM, mungkin masalah kebingungan yang mereka hadapi saat berhadapan dengan 5.000 orang yang lapar dapat teratasi dengan efektif tanpa harus merasa kebingungan,” demikian pernyataan Rm. Bonifasius Djuana Pr. Saat menyampaikan homili pada misa penutupan kegiatan Pelatihan Project Cycle Management bagi Karitas Keuskupan Regio Sumatra.

Tentu saja pernyataan pastor yang  juga direktur eksekutif Pansos Bodronoyo (Karitas KAPal) ini membuat gerr peserta yang hadir di misa kudus itu. Misa itu merupakan puncak sekaligus penutupan Pelatihan PCM bagi Karitas Keuskupan Regio Sumatra yang berlangsung di Wismalat Podomoro, Kabupaten Banyuasin, Sumatra Selatan. Dalam homilinya yang mengangkat perikop tentang Yesus yang member makan 5.000 orang, Rm. Boni menyinggung bahwa Yesus pun dengan sigap mengkaji kondisi faktual yang ada di hadapannya dengan kerangka analisis yang tajam. Tentunya tidak berbeda dengan teknik analisis masalah yang dipelajari dalam PCM. Hasil analisis tersebut yang membawa Yesus dan murid-muridNya bisa menyelesaikan masalah secara efektif dan bisa memberi makan kepada 5.000 orang yang berduyun-duyun mengikuti mereka.

Syndicate content