YAYASAN KARINA (Caritas Indonesia)
Jl. H. Agus Salim No. 22 D-E,
Jakarta 10350, INDONESIA
Name of Bank:
HSBC (The Hongkong and Shanghai Banking Corp. Limited)
Bank Address:
World Trade Center Building, Jl. Jend. Sudirman Kav 29-31, Jakarta 12920, INDONESIA
Swiftcode: HSBCIDJA
Account Name:
Yayasan Karina
Account Numbers:
001-081199-001 (in IDR)
001-081199-007 (in US Dollar)
001-081199-008 (in EURO)

Komisi PSE-Caritas Keuskupan Padang melaksanakan Grand Opening-Rehabilitation Program”EA37-2009 Diocesan Padang” pada tanggal 21 April 2010. Grand Opening ini dimaksudkan sebagai langkah peresmian atas mulainya Program Rehabilitasi.
Program Rehabilitasi ini sendiri memiliki tujuan yaitu melakukan kegiatan merenovasi rumah yang hancur akibat gempa bumi 30 September 2009 yang lalu, dimana rumah tersebut akan diidentifikasikan berdasarkan kriteria kerusakan dan diperbaiki dengan mengikuti kaedah rumah tahan gempa. Rumah tahan gempa ini bertujuan memberi skala waktu bagi penghuni rumah agar dapat keluar menyelamatkan diri dari bangunan. Program ini difokuskan di tiga wilayah paroki, yaitu Tirtonadi, Katedral dan Padang Baru. Dari data assesment tiga wilayah paroki ini sekurangnya terdapat 165 rumah yang akan dibantu. Grand Opening ini dilaksanakan dirumah Bapak Bachtiar Gulo-Paroki St. Maria Tirtonadi, rayon St. Yohanes Pembabtis.
Capacity Building (CB) Unit menyelenggrakan kegiatan Learning Review. Kegiatan itu menjadi pembelajaran bersama bagi para direktur dan manajer program Caritas Keuskupan yang telah memperoleh workshop Organizational Development (OD) dan pelatihan Project Cycle Management (PCM) selama tahun 2009.
Learning Review ini diselenggarakan selama empat hari di Hotel Grand Cemara, Jakarta dan difasilitasi oleh Karina KWI. Kegiatan ini terbagi menjadi dua tahap; 9-10 Maret 2010 untuk OD dilanjutkan 11-12 Maret 2010 untuk PCM.
Peserta learning review OD mencapai 16 orang mereka perwakilan dari 9 Caritas Keuskupan yang sudah mengadakan workshop di Keuskupan masing-masing, sementara peserta learning review PCM mencapai 32 perwakilan Caritas Keuskupan, terdiri dari Caritas-caritas Keuskupan yang telah mengikuti pelatihan PCM di tingkat regional.
Tujuan dari penyelenggaraan learning review sendiri adalah untuk menguatkan kapasitas dalam hal pengembangan organisasi dan pengelolaan siklus proyek kemanusiaan oleh Caritas-caritas Keuskupan melalui proses berbagi pengalaman, berefleksi dan menyerap hal-hal baru dari narasumber.
Ini adalah hari keempat keberadaan kami di India. Saat ini kami sedang menempuh perjalanan empat jam menuju Pondicherry dari Chennai. Berbagai situasi jalan kami temui selama perjalanan. Jalan kota yang kacau, jalan tol yang bersih, jalan sepi di tengah kegelapan malam, keramaian pasar yang memacetkan jalan. Kesemuanya kami jumpai berkali-kali. Rasanya seperti perjalanan tanpa ujung.
Karena kelelahan, kami pun memutuskan untuk berhenti di satu pasar. Setelah mencicipi satu teh manis yang terasa pahit dan kue bawang merah goreng, perjalanan dilanjutkan menuju Pondicherry. Hampir tengah malam kami tiba di Pondicherry. Karena perut belum terisi, kami memutuskan untuk berkeliling kota dan mencari makanan yang pas di lidah. Setelah menyusuri jalan dekat tempat kami menginap, akhirnya ada makanan yang mirip dengan nasi goreng di Indonesia! Akhirnya, ada juga rasa yang dekat di lidah dan cocok di hati!
Tidak ada yang tersembunyi dari Aceh yang tidak menjadi perhatian dari berbagai pihak Internasional setelah kejadian Tsunami tgl 26 Desember 2004 yang menelan korban lebih dari 126.000 jiwa.
Sebelumnya Aceh sudah sering dipublikasikan karena peristiwa konflik yang berkepanjangan antara GAM dan pemerintah Negara Republik Indonesia. Tsunami yang menelan begitu banyak korban jiwa dan materi sungguh dashyat. Namun tidak ada yang menyangka akan datangnya “tsunami kedua”. Tsunami ini muncul karena begitu banyaknya donor dari dunia Internasional menggelontorkan dana dalam jumlah yang tidak sedikit ke wilayah Aceh dan sekitarnya. Orang-orang Aceh mendapat “serangan” yang tiba-tiba dan tak terduga dan sangat mempengaruhi pola hidup dan mata pencaharian mereka. Bencana ini menambah persoalan mereka yang selama ini berada dalam situasi konflik yang berkepanjangan yang membuat masyarakat. Tsunami kedua membuat kebanyakan masyarakat memilih untuk menikmati rasa “aman” tinggal di rumah “bermalas-malasan” tanpa memperhitungkan perputaran hidupnya masih berlangsung terus.
Hidup di Indonesia berarti hidup di wilayah rentan bencana. Ancaman bencana ada di berbagai pelosok negeri, baik yang berasal dari alam maupun buatan manusia. Risiko kehilangan nyawa dan perikehidupan menjadi amat besar.
Untuk mengurangi risiko besar itu, kita perlu bersiap siaga dalam menghadapi ancaman bencana. Siap siaga berarti siap dengan pengetahuan, keterampilan, tenaga, peralatan dan cara kerja untuk menghadapi situasi darurat yang mungkin muncul. Siap siaga perlu dilakukan dari tingkat individu, keluarga, komunitas hingga institusi.
Upaya melakukan kesiapsiagaan telah dilakukan Karina KWI dan Caritas-Caritas Keuskupan di berbagai tingkat. Diantaranya adalah persebaran informasi bencana secara rutin, pertemuan rutin forum jaringan tanggap darurat, penyiapan komunitas siaga bencana di beberapa Caritas Keuskupan.
Untuk lebih mendorong upaya kesiapsiagaan, Karina KWI mengadakan Pelatihan Dasar Kesiapsiagaan dan Tanggap Darurat Oleh Komunitas. Pelatihan ini memfokuskan pada kesiapsiagaan dan tanggap darurat di tingkat komunitas, yang dikelola oleh komunitas sendiri.