"Bermain Namun Tetap Waspada..."
Bocah laki-laki, usia 9 tahun, berlari mendekati kami. “Kuantar ke rumahku!” katanya. Sambil berlari kecil di satu-satunya jalan menuju rumahnya, dia memimpin kami. Kami berhenti di sebuah rumah yang luluh lantak. Di sebelahnya ada tenda bergambar logo Caritas Germany telah berdiri di depan tempat hunian sementara dari kayu. Dua orang pria tengah menyusun dinding dapur ketika kami menyampaikan beberapa pertanyaan untuk monitoring. Dalam perjalanan kami menuju ke rumah berikutnya, kumulai percakapan dengan bocah ini.
Kamu ada di mana ketika gempa? Kamu takut tidak?
“Aku sedang di luar bersama adiku perempuan. Dulu juga pernah ada gempa. Jadi, aku tidak takut. Adikku selalu menangis jika ada gempa susulan.”
Kamu, adikmu, orangtuamu terluka tidak saat itu?
“Bapak dan ibu lari keluar. Hanya beberapa detik sebelum rumah kami roboh. Sekarang kami tinggal di tenda. Ibu, bapak,aku, dua adik perempuanku, dan kakek- nenek tinggal di tenda yang sama.”
Lalu, sekarang kalau kamu mau belajar dan bermain di mana?
“Di teras rumah. Kakekku memasang kayu dari pohon kelapa supaya tembok dan jendela tidak ambruk. Aku bermain di luar setelah sekolah. Di tenda sangat panas.”
Begitu ya... Lalu, bagaimana dengan sekolahmu ?
“Sekolahku roboh. Tak dapat digunakan lagi. Meja, kursi, dan buku-buku rusak tertimpa reruntuhan.”
Jadi, sekarang kamu tidak sekolah lagi ?
“Sekolah tidak bisa dipakai selama beberapa minggu. Sekarang, aku belajar di sekolah tenda sementara. Tapi, harus berjalan 2 km. Sekolahku dipindah ke tempat yang lebih aman di desa lain.”
Bagaimana dengan teman-temanmu? Mereka takut juga?
“Ya...beberapa takut, beberapa tidak.”
Apakah kamu punya pengalaman sebelum dan sesudah gempa?
“Gempa membuatku berhati-hati. Jika tanahnya berguncang hebat, aku akan membawa adikku perempuan keluar rumah segera. Ibu akan membawa adik kecilku yang baru 2 bulan usianya. Aku akan menjaga adikku.”
Kamu sungguh kakak yang hebat! Apakah gurumu mengajarkan lagu tentang gampa?
“Ya.”
Kemudian, dia mulai bernyanyi diikuti dua temannya sambil mengantar kami menuju ke mobil.
“Kalau ada gempa, lindungi kepala.
Kalau ada gempa, masuk kolong meja.
Kalau ada gempa, jauhi dari kaca.
Kalau ada gempa, lari ke lapangan terbuka…”
Ditulis oleh Yohanes Baskoro, Albert Deby, dan Victor Dimas (relawan Karina KAS untuk Caritas Joint Response)

