Relawan Caritas Joint Response: Kami Mau Membantu!

Gempa Bumi yang melanda Sumatera Barat pada 30 September 2009 yang lalu menggerakan hati semua orang. Dalam berbagai usaha dan cara, banyak pihak bergegas membantu warga terdampak di Sumatera Barat. Keinginan membantu juga diekspresikan dengan kehadiran langsung di lokasi. Datang ke lokasi dengan persiapan singkat, perbekalan seadanya, dan fasilitas yang sederhana tidak menghalangi niat teman-teman dari berbagai tempat membantu Caritas Joint Response. Berikut, beberapa komentar dari relawan yang datang dan bersedia berkeringat membantu agar bantuan yang disampaikan dari berbagai pihak melalui Caritas Joint Response:

Bang Ray (Caritas Sibolga)
“Relawan harus dalam kondisi yang baik dan kalau bisa jangan sampai sakit. Kita harus bekerja dengan kemauan dan sungguh-sungguh. Kita adalah perpanjangan tangan dari orang-orang baik yang memberikan sumbangan dan bantuan logistic kepada orang-orang yang selamat dari gempa bumi. Kita membantu orang-orang yang selamat tersebut. Tapi kalau kita sakit, siapa yang akan merawat kita?

Victor Dimas (Karina-KAS)
“Suatu kehormatan bagi saya menjadi bagian dari relawan CJR. Karina KAS menghubungi saya seminggu sebelum saya dikirim ke Padang. Saya juga membantu sebagai relawan pada waktu gempa bumi Jogja 2006. Situasi di sini hampir sama dengan gempa bumi di Jogja. Dengan 2 orang teman lain dari Karina KAS, kami membantu dalam hal mengumpulkan data atau cerita-ceirta untuk kepentingan komunikasi dan informasi. Saya bersedia untuk bekerja di bagian mana saja. Saya tidak keberatan bekerja di gudang, melakukan assessment atau distribusi logistic. Saya hanya ingin membantu para korban gempa bumi. “

Antonius Agus a.k.a Chemonk (Komunitas PALAGA, Paroki Pulo Gebang, Keuskupan Agung Jakarta)
“Ini bukan pertama kali saya bergabung dengan tim tanggap darurat. Mas Suko (Karina KWI) meminta kami dari Pulo Gebang karena kami memang selalu meresepon situasi darurat, khususnya ketika ada banjir di Jakarta. Pulo Gebang mengirimkan 3 orang ke Padang dengan dilengkapi perlengkapan secukupnya, sleeping bags, perlengkapan P3K, dan berkat dari pastor Paroki kami. Hahahahaha… Sekarang saya bergabung dengan tim logistic di gudang CJR. Kami mengurusi semua bantuan darurat yang masuk. Kalau bosan, kami bermain kartu”

Johannest Pandu (Karitas Purwokerto)
“Saya ditelpon Direktur Karitas Purwokerto (Karito) untuk bergabung dengan relawan Caritas Joint Respon (CJR) lainnya satu malam sebelum kami berangkat ke Padang. Karito mengirimkan 5 orang untuk membantu CJR selama 2 minggu. Kami mendapat pengarahan dari Direktu Karito di stasiun kereta. Para korban gempa ini juga saudara-saudara saya. Ini panggilan saya. Saya tidak punya banyak uang. Saya hanya mahasiswa. Yang bisa saya berikan kepada para korban gempa hanyalah tenaga dan pikiran saya.”

Sriaty Sovia (PMKRI Pekanbaru)
“Saya bergabung sebagai relawan CJR beberapa hari setelah gempa bumi. Sangat melelahkan dan menantang karena mandat CJR adalah untuk menjangkau daerah-daerah terpencil dan belum ada bantuan. Tidak banyak perempuan yang tertarik untuk menjadi relawan. Mungkin karena mereka takut make up mereka rusak. Saya menikmati pekerjaan ini dan menyenangkan sekali bisa berkunjung ke banyak tempat. Saya merasa senang bisa berjumpa dengan para korban gempa bumi secara langsung”

Dwi (Caritas Tanjung Karang)
“Saya di sini bersama 5 teman lain dari Tanjungkarang. Ini adalah pengalaman pertama saya bergabung dengan program tanggap darurat. Tidak banyak yang dapat saya tawarkan kepada program CJR, tapi saya percaya saya bisa menggunakan niat baik saya dalam melakukan assessment dan monitoring. Menyenangkan sekali bisa bicara dengan orang lain. Sekarang saya bisa merasakan bagaimana mereka bisa bertahan hidup dari bencana ini. Harapan mereka sendirilah yang bisa menyelamatkan mereka, yaitu harapan untuk membangun kehidupan yang lebih baik”

Ditulis oleh Yohanes Baskoro, Albert Deby S. and Victor Dimas B. Putra (Relawan Karina KAS untuk Caritas Joint Response Padang)