YAYASAN KARINA (Caritas Indonesia)
Jl. H. Agus Salim No. 22 D-E,
Jakarta 10350, INDONESIA

Name of Bank:
HSBC (The Hongkong and Shanghai Banking Corp. Limited)
Bank Address:
World Trade Center Building, Jl. Jend. Sudirman Kav 29-31, Jakarta 12920, INDONESIA
Swiftcode: HSBCIDJA

Account Name:
Yayasan Karina

Account Numbers:
001-081199-001 (in IDR)
001-081199-007 (in US Dollar)
001-081199-008 (in EURO)

Syndicate

Syndicate content

Deus Caritas Est (1)

ENSIKLIK
DEUS CARITAS EST
BAPA SUCI BENEDIKTUS XVI
KEPADA PARA USKUP, IMAM DAN DIAKON
KAUM RELIGIUS DAN SEMUA UMAT BERIMAN
TENTANG CINTA KASIH KRISTIANI

PENGANTAR

1. "Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada dalam kasih, dia tetap berada dalam Allah dan Allah dalam dia" (1 Yoh 4,16). Kata-kata dari surat pertama Yohanes ini mengungkapkan secara jelas inti terdalam dari iman Kristiani: gambaran Kristiani akan Allah dan buah gambaran akan umat manusia dan panggilannya. Dalam ayat yang sama, Santo Yohanes memberikan ringkasan akan hidup Kristiani, "Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita".

Kita telah menjadi percaya dalam kasih Allah: dalam kata-kata ini umat Kristiani dapat menyatakan keputusan-keputusan mendasar hidupnya. Menjadi Kristiani bukanlah buah dari pilihan etis atau gagasan cemerlang, namun dari perjumpaan dalam realitas, dengan seorang pribadi, yang hidupnya memberikan wawasan baru dan pengarahan mendasar. Injil Santo Yohanes menggambarkan peristiwa tersebut dengan ungkapan, "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini sehingga Ia telah mengaruniakan Putera-Nya yang tunggal supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya ... memperoleh hidup yang kekal" (Yoh 3,16). Dengan menyadari pentingnya kasih, iman Kristiani mengungkap kembali, dengan memberikan pendasaran dan cakupan baru, inti dari iman Israel. Umat Yahudi yang saleh mendoakan setiap hari kata-kata dari Kitab Ulangan, "Dengarkanlah hai umat Israel, Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu esa! Kasihanilah Tuhan, Allahmu dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu" (Ul 6,4-5). Yesus menyatukan perintah kasih pada Allah dengan perintah kasih akan sesama, sebagaimana ditemukan dalam Kitab Imamat, "Kasihanilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri" (Im 19,18; lih. Mark 12,29-31), dalam satu ajaran. Karena Allah terlebih dahulu mengasihi kita (lih 1 Yoh 4,10), maka kasih tidak lagi sekedar sebagai suatu 'perintah', namun merupakan tanggapan akan rahmat kasih yang menjadikan Allah menjadi dekat dengan kita.

Di tengah dunia di mana nama Allah seringkali dikaitkan dengan balas dendam atau tindakan kebencian dan kekerasan, pesan ini menjadi aktual dan penting. Dengan alasan ini saya bermaksud dalam ensiklik pertama saya ini berbicara tentang kasih, yang dicurahkan Allah secara berlimpah kepada kita dan karenanya harus kita bagikan kepada sesama. Inilah, pada intinya, yang dibicarakan dalam dua dua bagian pokok dari surat ini, dan keduanya saling terkait satu sama lain. Bagian pertama lebih spekulatif, sebagaimana saya inginkan di sini - di awal masa kepausan saya - untuk memperjelas beberapa fakta-fakta dasar terkait dengan kasih, yang telah secara misterius dan melimpah dicurahkannya kepada umat manusia, bersama dengan kaitan tak terpisahkan antara kasih dan kenyataan cinta manusiawi. Bagian kedua berbicara secara lebih konkret, sebagaimana ditandai dengan pewujudan kristiani perintah kasih akan sesama. Pernyataan ini memiliki implikasi meluas, karenanya pewujudannya secara menyeluruh akan melampaui cakupan ensiklik ini. Saya ingin menekankan beberapa unsur dasar, untuk menantang dunia bagi terbangunnya pembaharuan semangat dan komitmen dalam menanggapi kasih Allah.

BAGIAN I
KESATUAN KASIH
DALAM PENCIPTAAN DAN SEJARAH KESELAMATAN

Persoalan bahasa

2. Cinta kasih Allah kepada kita merupakan sesuatu yang fundamental bagi kehidupan kita, karena hal itu membawa kita sampai pada pertanyaan penting tentang siapakah Allah dan siapakah diri kita. Dengan menyadari hal itu, kita akan langsung menghadapi persoalan bahasa. Dewasa ini, kata 'cinta' telah menjadi kata yang sering dipakai namun pula disalahpahami, sebuah kata yang kita mengerti dalam berbagai arti yang berbeda. Betapapun ensiklik ini terutama berbicara mengenai pemahaman serta penghayatan cinta kasih berdasarkan Kitab Suci dan tradisi Gereja, namun kita tidak dapat menghindar dari pengertian mengenai cinta dalam berbagai budaya dan penggunaannya dewasa ini.

Baiklah pertama-tama kita lihat cakupan semantik dari kata cinta: cinta akan tanah air, cinta akan suatu profesi, cinta antar sahabat, cinta akan pekerjaan, cinta antara orangtua dan anak, cinta antar anggota keluarga, cinta akan sesama dan cinta akan Allah. Akan tetapi di antara keberagaman pengertian ini, orang akan secara khusus memberikan perhatian akan: cinta antara pria dan wanita, di mana tubuh dan jiwa bersatu secara tak terpisahkan dan dengannya memandang harapan besar akan kebahagiaan. Cinta dalam gambaran ini akan mudah dipandang sebagai wujud paling nyata dari cinta, sehingga segala wujud cinta yang lain cenderung tidak akan ditempatkan sebagai bandingan dari bentuk cinta antara pria-wanita. Karena itu akan langsung muncul pertanyaan: semua bentuk pewujudan cinta yang ada itu pada dasarnya satu, cinta dalam berbagai pewujudan dari realitas cinta yang satu dan sama, ataukah kita menggunakan kata yang sama untuk menggambarkan realitas yang sama sekali berbeda?

"Eros" dan "Agape" – perbedaan dan kesamaannya

3. Cinta antara pria dan wanita bukanlah sesuatu yang tidak disadari ataupun diinginkan, sebab hal itu merupakan sesuatu yang melekat pada umat manusia, sebagaimana disebut sebagai eros dalam ungkapan Yunani kuno. Mari kita simak secara singkat bahwa Perjanjian Lama dalam bahasa Yunani hanya dua kali menggunakan kata eros, sementara Perjanjian Baru sama sekali tidak menggunakan kata itu. Dari tiga kata Yunani lain akan cinta: eros, philia (cinta persahabatan) dan agape, penulis Perjanjian Baru lebih memakai yang terakhir, yang sebenarnya jarang muncul dalam bahasa Yunani. Sedangkan kata philia, cinta persahabatan, dipakai dalam pengertian secara mendalam oleh Santo Yohanes untuk menggambarkan relasi antara Yesus dengan para muridnya. Kecenderungan untuk menghindari pemakaian kata eros, dengan mengungkapkan pemahaman baru akan cinta dengan memakai kata agape, jelas memperlihatkan sesuatu yang baru dan berbeda dalam pemahaman Kristiani mengenai cinta. Dalam kritik akan Kristianitas, yang diawali dalam masa Fajar Budi (Enlightenment) dan kemudian berkembang secara radikal, kenyataan ini dipandang secara negatif. Menurut Friedrich Nietzsche, Kristianitas telah meracuni kata eros, karena tidak memahami secara utuh, dan mereduksinya dalam pengertian yang sebaliknya . Di sini filsuf Jerman tersebut menggambarkan persepsi yang beredar secara umum: bukankah dengannya Gereja, dengan segala perintah dan larangannya, menampik apa yang paling berarti dalam kehidupan? Bukankah dengannya Gereja melebih-lebihkan pengertian tentang kegembiraan, yang dianugerahkan Pencipta kepada kita sebagai kebahagiaan hanya sebagai pengertian yang melulu ilahi?

4. Inikah persoalannya? Apakah Gereja memang telah merusak pengertian mengenai eros? Marilah kita menyimak dunia pra-Kristiani. Orang-orang Yunani - tidak seperti dalam budaya lain - pada dasarnya memahami eros pertama-tama sebagai kemabukan, rasionalisasi secara berlebihan dalam "kegilaan ilahi" (divine madness), yang menjauhkan manusia dari keterbatasan dirinya dan memampukannya, dalam kondisi keberlimpahan daya ilahi, mengalami kebahagiaan tertinggi. Segala kekuatan surgawi dan duniawi menjadi kurang penting, "Omnia vincit amor" demikian kata Virgil dallam Bucolics — cinta mengatasi segala — dan dia menambahkan, "et nos cedamus amori"— marilah kita memberikan diri kepada cinta . Di dalam agama-agama, pandangan ini menemukan pewujudannya dalam ritus kesuburan, bagian dari apa yang dinamakan sebagai pelacuran 'suci' yang dijalankan di banyak kuil. Eros dengan demikian dirayakan sebagai kuasa ilahi, keikutsertaan bersama yang Ilahi.

Perjanjian lama jelas tegas menentang cara beragama seperti ini, karena sangat bertentangan dengan iman monoteistik, sehingga dilawannya sebagai penyalahgunaan religiositas. Dengan menolak eros yang seperti itu, diperanginya bentuk penyalahgunaan dan pembusukan dalam dirinya, karena dengan memberi bentuk illahi secara palsu akan eros sebenarnya merampas keluhuran martabatnya dan menodainya. Tak terelakkan, praktek pelacuran kuil, dengan menghadirkan kemabukan illahi seperti itu, menodai kemanusiaan dan kepribadian, dan menggunakannya sebagai sarana untuk menumbuhkan "kegilaan ilahi": jauh dari menjadi ilahi, mereka mengeksploitasi umat manusia. Kemabukan dan kelepaskontrolan eros, akhirnya bukanlah sesuatu yang menuntun dalam 'ekstase' kepada Yang Ilahi, sebaliknya suatu kejatuhan, suatu degradasi pada pribadi manusia. Jelas, dengan demikian, eros perlu ditata dan dimurnikan, agar tidak sekedar dimaksudkan bagi kepuasan sesaat, sebaliknya dimaksudkan untuk menandakan kemendalaman pribadi kita, sehingga kebahagiaan bagi keseluruhan diri pribadi dapat dipetik.

5. Dua sisi arus muncul jelas dari amatan singkat akan gagasan tentang eros di masa lalu dan di saat dewasa ini. Pertama, ada relasi tertentu antara cinta dan Keilahian: cinta menjanjikan pada keabadian, ketakterbatasan - realitas yang jauh lebih besar dan utuh daripada keberadaan kita sehari-hari. Secara bersamaan kita telah melihat bahwa cara untuk mencapainya tidak dengan begitu saja mengikuti dorongan naluri. Pemurnian dan pertumbuhan dalam kedewasaan dibutuhkan pula, dan hal itu dibuahkan lewat jalan pengorbanan. Jauh daripada penolak atau meracuni eros, mereka menyembuhkannya dan memulihkan martabatnya secara benar.

Hal ini terkait pertama-tama dan pada dasarnya pada kenyataan bahwa manusia diciptakan dengan badan dan jiwa. Pribadi manusia menjadi dirinya sendiri, ketika badan dan jiwanya secara utuh menyatu; tantangan akan eros dapat dikatakan teratasi jika kesatupaduan ini tercapai. Jika manusia hanya roh murni dan tubuh hanya dinilai sekedar sebagai kodrat kebinatangan belaka, roh dan badan kehilangan martabatnya. Sebaliknya pula, jika seseorang menyangkal akan adanya roh dan hanya mengakui badan sebagai satu-satunya realitas, dia akan kehilangan keluhurannya. Seorang pencicip kelezatan hidangan Gassendi mengucapkan salam kepada Descartes dengan mengatakan, "Oh, Roh!". Dan Descartes akan menjawab, "Oh, tubuh!" . Akan tetapi bukan hanya jiwa belaka atau tubuh belaka yang dicintai: adalah pribadi manusia, ciptaan utuh yang terdiri dari jiwa dan badan, yang dicintai. Hanya jika kedua dimensi tersebut sungguh bersatupadu, manusia akan mencapai kepenuhan gambaran dirinya. Hanya cinta seperti ini —eros— dapat berkembang utuh dan mencapai keluhurannya secara utuh.

Akhir-akhir ini, sering dikritik bahwa Kristianitas masa lalu menentang tubuh; kecenderungan seperti itu memang masih tampak. Akan tetapi saat ini kecenderungan untuk memuja tubuh menjadi ilusi. Eros, yang direduksi sekedar sebagai "seks", telah menjadi komoditi, sekedar sebagai "barang" yang dapat dibeli dan dijual, atau lebih lagi, pribadi manusia menjadi komoditi. Hal ini bukanlah suatu ungkapan penuh "Ya" manusia akan tubuh. Sebaliknya, dia kini menyadari tubuh dan seksualitasnya hanya sekedar menjadi bagian material akan dirinya, digunakan dan dieksploitasi seturut kehendaknya. Dengannya dia tidak menempatkannya sebagai pewujudan kebebasannya, namun sekedar sebagai objek yang dia coba, sejauh dia inginkan, baik untuk memuaskan atau melukai diri. Di sini kita, pada kenyataannya, melihat adanya perendahan tubuh manusiawi: tidak lagi terintegrasi kepada keseluruhan kebebasan eksistensial kita; tidak lagi menjadi ungkapan mendalam dari keutuhan diri kita, namun kurang lebih dipersempit sekedar dalam cakupan biologis belaka. Tanda-tanda pemujaan tubuh dapat dengan segera beralih dengan membenci kejasmanian. Iman Kristiani, sebaliknya, senantiasa menyadari pribadi manusia sebagai kesatuan yang berdimensi ganda, sebuah realitas di mana yang rohani dan jasmani saling melengkapi satu sama lain, sehingga dengannya masing-masing menemukan keluhurannya. Benar, eros yang mengarah dalam "ekstase" akan Yang Ilahi, akan menuntun kita untuk mengatasi diri kita; dan untuk memenuhi ini dituntut kita menelusuri jalan bagi pertumbuhan, pengorbanan, pemurnian diri dan penyembuhan.

6. Secara konkret, bagaimana jalan pertumbuhan dan pemurnian ini ditapaki? Bagaimana cinta dapat dialami sehingga dapat mewujudkan secara penuh harapan manusiawi dan rohani? Di sini kita dapat menemukan pertama-tama indikasi pentingnya dalam kitab Kidung Agung, kitab dalam Perjanjian Lama yang sangat dikenal para mistikus Menurut penafsiran yang secara umum dipahami dewasa ini, syair-syair yang termuat dalam kitab itu pada dasarnya adalah kidung cinta, yang mungkin dimaksudkan bagi pesta perkawinan Yahudi dan dimaksudkan untuk mengagungkan cinta perkawinan, Dalam konteks ini sangatlah berguna untuk mencatat bahwa dalam susunan buka tersebut dua kata Ibrani dipakai untuk menggambarkan "cinta". Pertama adalah kata dodim, bentuk jamak yang menandakan sebuah cinta yang tetap tidak pasti, tak tergambarkan secara jelas dan karena masih terus dalam pencarian. Kata ini dipakai untuk menggantikan kata ahabà, yang dalam kitab Perjanjian lama bahasa Yunani diterjemahkan dengan kata yang terdengar berbunyi sama, agape, yang, sebagaimana telah kita lihat, menjadi ungkapan khas dalam Kitab Suci. Berbeda dengan tentang cinta yang tak terumuskan dan dalam pencarian, kata ini mengungkapkan cinta yang memuat suatu pencarian konkret akan yang lain, bergerak mengatasi ciri egoistis yang tampak dalam pengertian kata sebelumnya. Cinta tidak lagi suatu pencarian diri, tenggelam dalam kemabukan kebahagiaan, namun mencari apa yang baik pada mereka yang dicintai: itu menjadi penyerahan diri dan sedia, bahkan berkehendak, untuk berkorban.

Hal itu merupakan bagian dari cinta yang tumbuh menuju tingkat yang lebih tinggi dan pemurnian diri yang berusaha untuk menjadi semakin pasti, dan berjalan demikian dalam dua pengertian: dalam pengertian eksklusif (untuk orang tertentu saja) dan dalam pengertian "untuk selalu". Cinta memuat keseluruhan diri dalam masing-masing dimensinya, termasuk dalam dimensi waktu. Tidak bisa menjadi sesuatu yang lain, karena cinta itu menjanjikan suatu tujuan yang pasti: cinta memandang keabadian. Cinta sungguh adalah suatu 'ekstase', bukan dalam pengertian saat mabuk, namun lebih sebagai suatu perjalanan, perjalanan untuk terus-menerus keluar dari pemusatan diri menuju pada pembebasan melalui pemberian diri, dan kemudian menuju pada pencarian diri secara sungguh, dan pencarian akan Allah. "Barangsiapa memelihara nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya, ia akan menyelamatkannya" (Luk 17,33), sebagaimana dikatakan Yesus dalam Injil (lih pula Mat 10,39; 16,25; Mrk 8,35; Luk 9,24; Yoh 12,25). Dengan kata-kata ini Yesus menggambarkan jalan yang ditapakinya, yang menuntun melalui Salib menuju kebangkitan: jalan biji gandum yang jatuh ke tanah dan mati, dan karenanya menghasilkan banyak buah. Berangkat dari kemendalaman pengorbanan dirinya dan cinta yang mencapai kepenuhan di dalamnya, Dia menggambarkan dengan kata-kata itu inti dari kasih dan karenanya kehidupan umat manusia sendiri.

7. Pendasaran kita untuk memahami pengertian tentang makna cinta kasih, yang lebih merupakan refleksi filosofis akan hakikat cinta telah membawa kita masuk kedalam iman kitab suci. Kita mengawalinya dengan mempertanyakan apakah perbedaan, atau tepatnya sesuatu yang bertentangan, dari pengertian dari kata 'cinta' yang ada, menunjuk pada sesuatu yang memiliki aspek penyatu secara mendasar, ataukah sebaliknya mereka tetap saling tak berhubungan satu sama lain, yang satu berada di sisi yang lain. Namun secara mendalam, kita mempertanyakan apakah pesan cinta kasih yang diwartakan Injil dan tradisi Gereja memiliki keterkaitan dengan pengalaman bersama umat manusia akan cinta, ataukah malahan bertentangan dengan pengalaman tersebut. Semua ini membawa kita untuk mengenali dua kata dasar: eros, sebuah istilah yang lebih menandakan cinta 'duniawi' dan agape, yang mengacu padda cinta yang didasarkan dan dibentuk pada iman. Dua gagasan tersebut tidak jarang terbedakan sebagai cinta yang "naik" (menumbuhkan gairah) dan cinta yang "turun" (melepaskan diri). Ada pula gagasan lain yang berdasarkan kriteria sama lalu membedakan antara cinta posesif dan cinta dalam pemberian diri dalam kemurahan hati (amor concupiscentiae – amor benevolentiae), yang kadang ditambahkan pula cinta yang mencari keuntungan dirinya sendiri.

Dalam perbincangan filsafat dan teologi pengartian ini kadang secara berlebihan dibicarakan untuk menetapkan suatu pembedaan yang saling mempertentangkan satu sama lain: cinta yang 'turun', cinta kemurahan hati —agape— merupakan sesuatu yang khas Kristiani, sementara sebaliknya, cinta yang 'naik', posesif dan nafsu —eros— khas budaya non Kristiani, terlebih budaya Yunani. Jika anti tesis ini ditempatkan secara ekstrem, hakekat Kristianitas akan dijauhkan dari relasi vital mendasar umat manusia, dan terlepas dari dunia, mungkin dikagumi namun secara hakiki terpisah dari keseluruhan struktur kehidupan umat manusia. Akan tetapi eros dan agape — cinta yang menumbuhkan gelora dan cinta yang melepaskan diri — sama sekali tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Lebih daripada itu semua, semakin keduanya, dalam aspek yang berbeda, menemukan kesatuan yang tepat dalam satu realitas kasih, semakin kodrat sejati cinta diwujudkan. Maka kalau eros, betapapun pertama-tama berupa gairah yang semakin menggelora, sebagai suatu daya tarik bagi janji kebahagiaan, semakin terarah pada yang lain, dia akan semakin tidak berpusat pada diri sendiri, dan semakin mencari kebahagiaan yang lain, ingin semakin bersama dia yang dicintai, semakin memberikan dirinya dan hadir bagi yang lain. Unsur agape kemudian menyatu dengan cinta tersebut, sebaliknya eros semakin melemah dan kehilangan hakekatnya. Sebaliknya, orang tidak dapat hidup hanya dengan cinta kemurahan hati, kasih yang memberikan diri. Dia tidak bisa hanya selalu memberi, dia juga harus menerima. Seseorang yang ingin memberikan cintanya harus pula menerima cinta sebagai suatu hadiah. Tentu, sebagaimana Tuhan mengajarkannya kepada kita, seseorang dapat menjadi sumber yang darinya mengalir air kehidupan (lih Yoh 7, 37-38).

Dalam menjelaskan kisah tangga Yakub, para Bapa Gereja melihat adanya relasi tak terpisahkan antara cinta yang naik dan yang turun, antara eros yang mencari Allah dan agape yang tumbuh dalam hadiah yang diterima, dalam berbagai bentuk yang menandainya. Dalam bagian Kitab Suci itu kita membaca bagaimana Bapa Yakub melihat dalam sebuah mimpi tidurnya, dengan batu sebagai alas kepalanya, sebuah tangga yang ujungan sampai ke langit, dengan Malaikat-malaikat Allah turun-naik (lih Kej 28,12; Yoh 1,51). Secara khusus penafsiran yang mengagumkan ini dikatakan oleh Paus Gregorius Agung dalam Patokan Pastoralnya. Dia menceriterakan bahwa gembala yang baik harus berakar pada kontemplasi. Hanya dengan demikian dia dapat menanggung dalam dirinya sendiri kebutuhan sesama, "per pietatis viscera in se infirmitatem caeterorum transferat" . Santo Gregorius mengungkapkan ini dalam konteks Santo Paulus, yang terangkat naik ke dalam misteri Allah, sehingga setelah turun dia menjadi mampu memberikan diri dalam segala bagi semua orang. Dia juga menunjuk pada teladan Musa, yang dengan senantisa berulangkali masuk ke Kemah Suci, senantiasa berada dalam dialog dengan Allah, agar dapat semakin melayani umatnya. Di dalam (Kemah Suci) dia terangkat naik dalam kontemplasi, sebab tanpa itu dia sama sekali tidak sanggup melayani mereka yang menderita, intus in contemplationem rapitur, foris infirmantium negotiis urgetur."

8. Kita telah membicarakan persoalan dasar, yang dengannya kita menanggapi dua pertanyaan yang telah muncul sebelumnya. Secara mendasar, "cinta" merupakan realitas tunggal, namun memiliki dimensi yang berbeda; dalam waktu-waktu yang berbeda, satu atau dimensi yang lain tampil secara lebih mencolok. Akan tetapi kalau dua dimensi tersebut sama sekali dipisahkan dari yang lain, hasilnya adalah suatu gambaran karikaturis yang tidak tepat atau paling tidak pemiskinan bentuk kasih. Dan kita telah pula melihat, secara menyeluruh, bahwa iman Kitab Suci tidak membangun suatu gambaran dunia lain atau menentang gejala mendasar umat manusia tentang cinta, namun sebaliknya menerima keseluruhan diri umat manusia, dan masuk ke dalamnya dalam pencarian akan cinta untuk memurnikannya dan membangun dimensi baru di dalamnya. Kebaharuan dari iman Kitab Suci ini terutama diperlihatkan dalam dua unsur, yang mendapatkan penekanan secara kuat: gambaran akan Allah dan gambaran akan pribadi manusia.

Kebaharuan dalam iman Kitab Suci

9. Pertama, dunia Kitab Suci menyajikan gambaran baru akan Allah. Dalam budaya-budaya sekitarnya, gambaran akan Allah dan akan dewa-dewa pada dasarnya tidak jelas dan saling bertolak belakang satu sama lain. Namun dalam perkembangan iman Kitab Suci apa yang termuat dalam doa dasar umat Israel, Shema, gambaran itu menjadi semakin jelas dan pasti, "Dengarkanlah, umat Israel, Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu esa!" (lih Ul 6,4). Hanya ada satu Allah, pencipta langit dan bumi, yang adalah Allah pencipta umat manusia. Ada dua fakta penting dari pernyataan ini: semua illah-illah yang lain bukanlah Allah, dan alam semesta tempat di mana kita hidup menemukan sumbernya di dalam Allah dan dicipta oleh-Nya. Tentu, gagasan mengenai penciptaan dapat ditemukan ditempat lain, namun hanya di sini gagasan tersebut menjadi sangat jelas, bahwa bukannya ada satu illah di antara illah-illah yang lain, tetapi hanya ada satu Allah yang benar, yang adalah sumber dari segala yang ada; keseluruhan dunia hanya ada dan hidup berkat kuasa sabda penciptaan Allah. Konsekuensinya, ciptaan-Nya berarti bagi-Nya, sebab dikehendaki dan diciptakan-Nya. Unsur penting kedua kemudian muncul: Allah ini mencintai manusia. Kuasa Ilahi yang dicari oleh Aristoteles dalam puncak filsafat Yunani untuk dipahaminya lewat refleksi, dalam kenyataannya merupakan objek keinginan dan cinta bagi semua ciptaan - dan sebagai objek cinta realitas Ilahi ini menggerakkan dunia - akan tetapi dirinya sendiri tak kehilangan apapun dan tidak mencintai: sebab hanya merupakan objek dari cinta. Allah yang esa, yang diimani umat Israel, sebaliknya, mencintai dengan cinta personal. Cintanya, lebih daripada itu, adalah cinta yang memilih: dari segala bangsa Dia memilih Israel dan mencintainya - namun dengannya Dia berkehendak menyelamatkan seluruh umat manusia. Allah mencintai, dan cinta-Nya dapat disebut sebagai eros, namun adalah pula sepenuhnya agape .

Para Nabi, khususnya Hosea dan Yehezkiel, menggambarkan cinta Allah untuk memiliki umat-Nya dalam gambaran erotis. Relasi Allah dengan Israel digambarkan dengan menggunakan gambaran mempelai dan perkawinan; pemujaan berhala adalah ketidaksetiaan dan pelacuran. Di sini kita menemukan acuan khusus - sebagaimana telah kita lihat - kultus kesuburan dan penyelewengan eros, tetapi juga sebuah penggambaran relasi kesetiaan antara Israel dan Allah mereka. Sejarah relasi kasih antara Allah dan Israel ternyatakan, pada tataran terdalamnya, bahwa Dia memberi mereka Taurat, yang dengannya mata umat Israel terbuka untuk mengenali kodrat asali umat manusia dan menunjukkan kepadanya jalan menuju pada kemanusiaan sejati. Hal itu tampak dalam kenyataan bahwa manusia, dalam kesetiaan hidupnya akan Allah yang esa, sampai pada pengalaman bahwa dirinya dikasihi Allah, dan menemukan kegembiraan dalam kebenaran dan keadilan - kegembiraan dalam Allah yang menjadi kebahagiaan sejati baginya, "Siapa gerangan ada padaku di Surga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuinginkan di bumi. ... Tetapi aku, aku suka dekat pada Allah" (Mzm 73, 25.28).

10. Kita telah melihat bahwa eros Allah sepenuhnya adalah agape. Dikatakan demikian bukan hanya karena itu dicurahkan sepenuhnya secara cuma-cuma, tanpa syarat apapun sebelumnya, tetapi juga karena itu adalah pula kasih yang mengampuni. Hosea terutama memberikan gambaran bahwa dimensi agape dari kasih Allah kepada umat manusia ini jauh melampaui aspek balas-jasa. Israel tidak setia dan menghancurkan perjanjian; Allah seharusnya mengadili dan menolak mereka. Di sini secara tepat digambarkan bahwa Allah menyatakan diri-Nya sebagai Allah dan bukan manusia, "Masakan Aku membiarkan engkau, hai Efraim, menyerahkan engkau, hai Israel! .. Hati-Ku berbalik dalam diri-Ku, belas kasihan-Ku bangkit serentak. Aku tidak akan melaksanakan murka-Ku yang bernyala-nyala itu, tidak akan membinasakan Efraim kembali. Sebab Aku ini Allah dan bukan manusia!" (Hos 11, 8-9). Kasih Allah yang mau merangkul umat-Nya, - umat manusia - pada saat yang sama adalah kasih yang mengampuni. Kasih ini begitu agung, karena kasih itu menanggalkan-Nya sendiri, kasih yang menentang keadilan-Nya. Di sini umat Kristiani dapat melihatnya dalam rahasia yang tersembunyi dalam misteri Salib: sedemikian besar kasih Allah kepada manusia, sehingga dengan menjadi manusia Dia membawa diri-Nya sampai pada kematian, dan dengannya Dia memperdamaian keadilan dan kasih.

Dimensi filsafat terdapat dalam visi Alkitabiah ini, dan maknanya dari sudut pandang sejarah agama-agama terletak dalam fakta bahwa di satu sisi kita dapat menemukan diri di hadapan gambaran metafisik akan Allah: Allah adalah sumber mutlak dan akhir semua ciptaan; tetapi prinsip universal penciptaan - Logos, nalar asali - pada saat yang sama Pecinta yang rela menderita demi kasih sejatinya. Eros kemudian dimuliakan pada tingkat tertinggi, dan karenanya dimurnikan dengan disatukan dengan agape. Kita dapat dengannya memahami bahwa penerimaan Kitab Kidung Agung dalam kanon Kitab Suci dapat dijelaskan dengan penjelasan bahwa kidung kasih tersebut pada dasarnya menggambarkan relasi Allah dengan manusia dan relasi manusia dengan Allah. Maka Kidung Agung menjadi, baik dalam literatur Kristiani maupun Yahudi, sumber pengetahuan dan pengalaman mistik, ungkapan dari inti iman Kitab Suci: bahwa manusia dapat sungguh masuk dalam kesatuan dengan Allah - dambaan asali manusia. Akan tetapi kesatuan ini tidak berarti lebur, tenggelam dalam lautan Ilahi yang tak bernama, melainkan sebuah kesatuan, yang membuahkan kasih, kesatuan baik Allah maupun manusia tetap menjadi dirinya sendiri dan karenanya menjadi satu sepenuhnya, "Siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia" ( 1 Kor 6,17).

11. Kebaharuan pertama dari iman Kitab Suci, sebagaimana telah kita lihat, terletak pada gambarannya mengenai Allah. Yang kedua, pada dasarnya terkait dengannya, dapat ditemukan dalam gambaran mengenai manusia. Kisah penciptaan dalam Kitab Suci bertutur tentang kesendirian Adam, manusia pertama, dan Allah setelahnya memberinya seorang penolong baginya. Di antara semua ciptaan yang lain, tidak ada yang dapat menjadi penolong baginya, betapapun dia yang memberi nama semua binatang hutan dan segala burung, sehingga dengannya menjadikan semua sebagai bagian dari hidupnya. Maka Allah menciptakan seorang perempuan dari tulang rusuk lelaki. Kini Adam memiliki penolong yang dibutuhkannya, "Inilah dia tulang dari tulangku, dan daging dari dagingku" (Kej 2,23). Di sini kita dapat menemukan gagasan yang dapat pula ditemukan, seperti misalnya, dalam mitos yang dikisahkan oleh Plato, yang menggambarkan bahwa manusia pada dasarnya berciri bulat utuh, sebab dia sepenuhnya sempurna dalam dirinya dan berdiri sendiri. Akan tetapi sebagai hukuman atas kesombongannya, dia dipisah menjadi dua oleh Zeus, sehingga dia menginginkan separuh bagian dirinya, terdorong sepenuhnya untuk memilikinya, sehingga menemukan kembali keutuhannya . Sementara kisah Alkitabiah tidak berbicara mengenai penghukuman, sebab penggambaran yang dihadirkannya adalah bahwa manusia sepenuhnya tidak lengkap, sehingga terdorong oleh kodratnya untuk mencari yang lain yang dapat menjadikannya utuh, sebuah penggambaran bahwa hanya dalam kesatuan dengan yang berjenis lain dia dapat menjadi penuh. Kisah dalam Kitab Suci karenanya kemudian menyimpulkan dengan sebuah nubuat tentang Adam, "Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging" (Kej 2,24).

Ada dua aspek penting di sini. Pertama, eros adalah sesuatu yang berakar pada kodrat manusia; Adam adalah seorang pencari, yang 'meninggalkan ayahnya dan ibunya' untuk mencari seorang perempuan, sebab dalam kebersamaan keduanya dapat membangun keutuhan kemanusiaan dan menjadi 'satu tubuh'. Aspek kedua sama pentingnya. Dari sudut pandang penciptaan, eros mengarahkan manusia pada perkawinan, pada suatu ikatan yang adalah unik dan pasti, sehingga, dan hanya dengannya, dia dapat memenuhi maksud terdalam hidupnya. Dan terkait dengan gambaran akan Allah monoteistik maka perkawinan pun monogami. Perkawinan yang berdasar pada cinta yang eksklusif dan tetap menjadi tanda relasi antara Allah dengan umat-Nya dan sebaliknya. Jalan kasih Allah menjadi ukuran cinta manusia. Kaitan erat antara eros dan perkawinan dalam Kitab Suci ini praktis tidak dapat ditemukan padanannya dalam literatur non biblis.

Yesus Kristus - kasih Allah yang menjelma

12. Hingga kini kita telah mengupas terutama dari Perjanjian Lama, walaupun demikian toh kesatuan yang utuh saling melengkapi antara dua Perjanjian sebagai satu Kitab Suci dari iman Kristiani hadir di dalamnya. Kebaharuan sejati dalam Perjanjian Baru bukan dalam kebaharuan gagasan, namun dalam gambaran akan Kristus, yang memberikan tubuh dan darah-Nya bagi gagasan tersebut - suatu realisme yang sangat mengagumkan. Sebenarnya telah tercermin dalam Perjanjian Lama bahwa kebaharuan yang dinyatakan dalam Kitab Suci tidak terletak terutama dalam gagasan abstrak, namun dalam tindakan Allah yang tidak terduga dan mengagumkan. Tindakan Allah ini kini terwujud secara dramatis ketika, dalam Yesus Kristus, Allah sendiri, dalam mencari 'domba-domba yang hilang', masuk dalam penderitaan dan kehilangan kemanusiaan. Ketika Yesus menceriterakan perumpamaan tentang gembala yang mencari domba yang hilang, perempuan yang mencari dirham yang hilang, atau tentang seorang bapa yang berlari mendapatkan dan merangkul anaknya yang hilang, maka tidak hanya sekedar kata-kata: penjelasan mengenai realitas diri dan tindakan Allah. Kematiannya di kayu salib adalah puncak tindakan Allah yang menanggalkan diri-Nya, dengan mengorbankan dirinya sendiri untuk mengangkat kembali manusia dan menyelamatkannya. Di sini kasih menemukan bentuknya yang paling radikal. Dengan memandang Kristus yang tertikam, sebagaimana dikatakan Yohanes (lih Yoh 19,37), kita dapat memahami titik tolak ensiklik ini, "Allah adalah kasih" (1 Yoh 4,8). Di sanalah kebenaran ini dapat dikontemplasikan. Dari sini pulalah pengertian kita akan cinta berawal. Dengan memandangnya umat Kristiani menemukan tapak jalan hidup dan kasih yang harus ditelusurinya.

13. Yesus memberikan tindakan kurban diri-Nya agar senantiasa hadir dengan menetapkan Ekaristi pada perjamuan malam terakhir. Dia mempersiapkan kematian dan kebangkitan-Nya dengan memberikan pada murid-murid-Nya, dalam wujud roti dan anggur, diri-Nya sendiri, tubuh dan darah-Nya sebagai manna yang baru (lih Yoh 6,31-33). Dunia lama secara sederhana membayangkan makanan sejati manusia - apa yang dibutuhkannya sebagai manusia - pada dasarnya adalah Logos, kebijaksaaan abadi, dan kini Logos yang sama itu sungguh menjadi santapan bagi kita - sebagai kasih. Ekaristi membawa kita ke dalam tindakan penyerahan diri Yesus. Lebih daripada secara statistik menerima Logos yang menjelma, kita masuk dengannya ke dalam dinamika terdalam pemberian diri. Gambaran perkawinan antara Allah dengan Israel kini diwujudkan dalam cara yang sepenuhnya tidak bisa tergambarkan sebelumnya: dulu dengan berdiri di hadapan kehadiran Allah, kini menjadi bersatu dengan Allah dengan ikut serta dalam pengorbanan diri Yesus, ikut serta dalam tubuh dan darah-Nya. Mistik sakramental, berdasar pada penyatuan diri Allah ke dalam hidup kita, bekerja lebih lanjut dan mengangkat kita jauh lebih tinggi daripada apa yang dapat digapai dalam segala pengangkatan mistis.

14. Di sini kita perlu menyadari aspek lain: mistik sakramental dalam ciri sosialnya, dalam persekutuan sakramental di mana saya, bersama penerima komuni lainnya, menjadi satu dengan Tuhan. Sebagaimana Santo Paulus mengatakan, "Karena roti adalah satu, maka kita, sekalipun banyak, adalah satu tubuh, karena kita semua mendapat bagian dalam roti yang satu itu" (1 Kor 10,17). Kesatuan dengan Kristus adalah pula kesatuan dengan semua, yang kepadanya Dia memberikan diri-Nya sendiri. Saya tidak dapat memiliki Kristus karena diri saya sendiri; saya hanya dapat menjadi bagian dari diri-Nya hanya dalam kesatuan dengan semua, yang telah, dan yang akan, menjadi milik-Nya. Komuni membawa saya keluar dari diri saya sendiri menuju pada-Nya, dan dengannya pun menuju pada kesatuan dengan semua umat Kristiani. Kita menjadi 'satu tubuh', lebur sepenuhnya bersama yang lain dalam satu keberadaan. Kasih akan Allah dan kasih akan sesama kini sepenuhnya satu: Allah yang menjelma membawa semua kedalam diri-Nya sendiri. Dengannya kita dapat mengerti mengapa agape juga menjadi istilah bagi ekaristi: di sana agape Allah secara badani datang kepada kita, untuk melanjutkan karya-Nya di dalam dan melalui kita. Hanya dengan memahami pendasaran kristologis dan sakramental ini kita dapat memahami secara tepat ajaran Yesus tentang kasih. Perubahan yang Dia buat dari ajaran Taurat dan para Nabi pada perintah kasih yang berdimensi ganda, kasih akan Allah dan sesama, serta pendasaran-Nya akan kepenuhan hidup iman dalam ajaran sentral ini, bukanlah sekedar perkara moralitas - sesuatu yang dapat hidup terpisah atau diluar iman akan Kristus dan pewujudnyataan sakramentalnya. Iman, ibadah dan ethos mewujud dalam satu realitas, yang terbentuk dalam perjumpaan kita dengan agape Allah. Di sini pemisahan secara bertolak-belakang antara ibadah dan etika sepenuhnya tidak berlaku. Ibadah, pada dirinya sendiri, kebersamaan ekaristis, merupakan realitas baik dicintai maupun mencintai sesama. Ekaristi yang tidak menuntun pada tindakan kasih yang konkret pada dirinya sendiri tidak lengkap. Sebaliknya, sebagaimana nanti akan kita simak secara lebih mendetil, perintah kasih hanya mungkin sebab dia lebih daripada sekedar suatu kebutuhan. Kasih dapat 'dituntut' sebab dia pertama-tama diberi.

15. Prinsip ini merupakan titik tolak bagi pemahaman akan perumpamaan terkenal dari Yesus. Seorang kaya (lih Luk 16,19-31) memohon dari tempat penghukumannya agar saudara-saudaranya diperingatkan akan apa yang bakal terjadi pada mereka yang tidak peduli pada kebutuhan orang miskin. Yesus memakai permohonan ini sebagai peringatan agar kita mengambil jalan yang benar. Perumpamaan tentang orang Samaria yang murah hati (lih. Luk 10,25-37) secara khusus memberikan dua penjelasan penting. Sampai pada waktu itu, gagasan mengenai 'sesama' dipahami dalam acuan pada orang sebangsa dan pada orang asing yang tinggal di Israel, atau, dengan kata lain, komunitas terdekat sebagai bangsa atau negara tertentu. Batasan ini kini dibongkar. Setiap orang yang membutuhkan saya, dan kepada siapa saya dapat memberikan bantuan, adalah sesama saya. Gagasan mengenai sesama kini menjadi universal, betapapun tetap bersifat konkret. Di samping diperluas pada semua umat manusia, gagasan tentang sesama tidak dipersempit pada ungkapan kasih yang umum, abstrak dan tak mewujud, akan tetapi memanggil pada pewujudan komitmen praktis kini dan di sini. Gereja berkewajiban untuk senantiasa menafsirkan kaitan antara gambaran sesama yang jauh dan dekat ini di tengah kehidupan sehari-hari anggotanya. Akhirnya, kita harus secara khusus memperhatikan, perumpamaan tentang pengadilan terakhir (lih Mat 25,31-46), di mana kasih menjadi kriteria bagi keputusan akhir akan berharga dan tidak berharganya hidup manusia. Yesus mengidentifikasikan dirinya sendiri dengan mereka yang membutuhkan, dengan mereka yang lapar, haus, orang asing, telanjang, mereka yang sakit dan berada dalam penjara. "Segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku" (Mat 25,40). Kasih akan Allah dan kasih akan sesama menjadi satu: dalam diri mereka yang hina kita menemukan Yesus sendiri, dan dalam Yesus kita menemukan Allah

Kasih akan Allah dan kasih akan sesama

16. Setelah merefleksikan hakekat kasih dan artinya dalam iman Kitab Suci, dua pertanyaan muncul sehubungan dengan sikap kita: dapatkah kita mencintai Allah tanpa melihat-Nya? Dapatkah cinta itu diperintah? Bertentangan dengan perintah kasih yang berdimensi ganda pertanyaan-pertanyaan tersebut menumbuhkan keberatan ganda. Tak seorang pun pernah melihat Allah, maka bagaimana kita mencintai-Nya? Lebih lanjut, cinta tidak dapat diperintah, sebab dia sepenuhnya suatu perasaan yang dapat ada atau tidak ada, maka tidak dapat dihasilkan oleh kehendak. Kitab Suci sepertinya menanggapi keberatan pertama dengan mengatakan, "Jika seseorang berkata: 'Aku mengasihi Allah,' dan ia membenci saudaranya, maka dia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya" (1 Yoh 4,20). Teks ini secara jelas menyangkal anggapan bahwa kasih Allah adalah sesuatu yang mustahil. Sebaliknya, keseluruhan konteks ayat yang dikutip dari surat pertama Yohanes memperlihatkan bahwa kasih pada dasarnya dituntut. Kesatuan yang tak terpisahkan antara kasih akan Allah dan kasih akan sesama ditekankan. Yang satu secara erat terkait dengan yang lain, sehingga dikatakan bahwa cinta kita pada Allah merupakan suatu kebohongan jika kita menutup diri pada sesama atau sepenuhnya membencinya. Kata-kata dari Santo Yohanes perlu lebih ditafsirkan untuk mengerti bahwa kasih akan sesama adalah jalan yang menuntun pada perjumpaan dengan Allah, dan bahwa dengan menutup mata akan sesama menjadikan kita buta akan Allah.

17. Benar, tak seorang pun dapat melihat Allah sebagaimana Dia adanya. Namun Allah tidak sepenuhnya tidak terlihat bagi kita; Dia tidak sama sekali tak terdekati. Allah telah terlebih dahulu mencintai kita, tulis surat Yohanes (lih 1 Yoh 4,10), dan kasih Allah ini hadir di tengah kita. Dia menjadi terlihat sebagaimana Dia "telah mengutus Putera-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup oleh-Nya" (1 Yoh 4,9). Allah menjadikan diri-Nya sendiri terlihat: dalam Yesus kita dapat melihat Bapa (lih Yoh 14,9). Dengan demikian, Allah terlihat hadir dalam berbagai cara. Dalam kisah kasih yang diceriterakan oleh Injil, Dia datang kepada kita, Dia berupaya meraih hati kita, sampai akhirnya sampai pada Perjamuan Malam terakhir, sampai hati-Nya tertikam di kayu Salib, sampai pada penampakan-Nya setelah kebangkitan dan pada perbuatan-perbuatan besar melalui tindakan para rasul, Dia menuntun Gereja yang baru tumbuh dalam jalan-Nya. Tak pernah sekali pun Tuhan tidak hadir dalam perjalanan sejarah Gereja: Dia senantiasa menjumpai kita, dalam pria dan wanita yang hidupnya memancarkan kehadiran-Nya, dalam sabda-Nya, dalam sakramen-sakramen-Nya, dalam terlebih dalam Ekaristi. Di dalam liturgi Gereja, dalam doanya, dalam hidup komunitas umat beriman, kita mengalami kasih Allah, merasakan kehadiran-Nya dan karenanya kita belajar mengenali kehadiran-Nya di tengah kehidupan kita sehari-hari. Dia terlebih dahulu mencintai kita dan senantiasa mencintai kita, kita pun, kemudian, dapat menanggapinya dengan kasih. Allah tidak menuntut kita suatu kasih yang kita sendiri tidak dapat menghasilkannya. Dia mencintai kita, Dia membuat kita melihat dan mengalami kasih-Nya, dan karena Dia telah terlebih dahulu mengasihi kita, maka kasih dapat berbuah sebagai suatu tanggapan kasih dalam diri kita.

Dengan menapaki proses perjumpaan ini, menjadi semakin jelas bahwa cinta bukan hanya soal perasaan. Perasaan datang dan pergi. Perasaan dapat menjadi pijar yang mengagumkan, akan tetapi dia bukanlah wujud kepenuhan kasih. Sebelumnya kita telah berbicara mengenai pemurnian dan pendewasaan, di mana eros mencapai kepenuhan dirinya, menjadi cinta dalam arti kepenuhan katanya. Ini adalah tanda cinta yang dewasa, yang mengundang pewujudan potensi dirinya, melibatkan keseluruhan diri manusia, demikian dikatakan. Perjumpaan dengan pewujudannyataan secara kelihatan kasih Allah dapat menumbuhkan dalam diri kita perasaan kegembiraan yang lahir dari pengalaman dicintai. Namun perjumpaan ini juga melibatkan kehendak dan budi kita. Pengakuan akan Allah yang hidup adalah sebuah langkah menuju pada kasih, dan jawaban 'ya' kehendak kita akan kehendak-Nya menyatukan budi, kehendak, dan perasaan untuk menerima secara penuh tindakan kasih. Akan tetapi proses ini senantiasa berakhir terbuka; kasih tidak pernah 'berakhir' dan penuh; dalam perjalanan hidup, dia berubah dan berkembang, dan karenanya senantiasa setia pada dirinya. Idem velle atque idem nolle - menginginkan yang sama dan menolak yang sama - dikenali di zaman kuno sebagai muatan otentik cinta: seseorang menjadi semakin mirip dengan yang lain, dan hal ini menuntun pada persekutuan kehendak dan pikiran. Kisah kasih antara Allah dengan manusia terletak pada kenyataan bahwa persekutuan kehendak tumbuh dalam kesatuan pikiran dan perasaan, sehingga kehendak kita dan kehendak Allah berkembang menyatu: kehendak Allah tidak lagi asing bagi kehendakku, sesuatu yang dari luar dengan begitu saja tertanam dalam diriku, dan kini menjadi kehendakku sendiri, hal ini terwujud karena Allah semakin hadir secara mendalam dalam diriku lebih daripada aku hadir dalam diriku sendiri . Kemudian penyerahan diri kepada Allah semakin tumbuh dan Allah menjadi kegembiraanku (lih Mzm 73, 23-28).

18. Kasih akan sesama sebagaimana dinyatakan dalam pewartaan Injil, oleh Yesus, menjadi mungkin. Menjadi demikian karena, di dalam Allah dan bersama Allah, saya dapat mencintai seseorang betapapun dia tidak saya sukai atau saya kenali. Hal ini hanya dapat terwujud berdasar pada relasi intim dengan Allah, suatu relasi yang berbuah pada kesatuan kehendak, betapapun hal itu melukai perasaanku sendiri. Kemudian saya belajar untuk orang lain tidak sekedar dari mata dan perasaanku, namun dari perspektif Yesus Kristus. Sahabat-Nya adalah sahabatku, Dengan memandang melampaui penampilan luar, saya menerima dalam diri sesama kehendak batin akan tanda kasih, akan perhatian. Dengan ini saya dapat memberi mereka tidak hanya melalui intensi organisatoris akan maksud tujuan tertentu, atau menerimanya mungkin sebagai kebutuhan politis. Dengan memandang dengan mata Kristus, saya dapat memberikan kepada sesama lebih banyak daripada apa yang secara kelihatan dibutuhkannya; saya dapat memberi mereka pandangan kasih yang mereka butuhkan. Di sini kita melihat suatu kebutuhan akan adanya relasi antara kasih akan Allah dan kasih akan sesama sebagaimana secara jelas dibicarakan dalam Surat pertama Yohanes. Jika saya tidak memiliki relasi apapun dengan Allah dalam diri saya, maka kemudian saya mampu memandang dalam diri sesama tidak lebih dari dirinya, dan saya tidak memandang dalam dirinya gambaran akan Allah. Demikian juga jika hidup saya, saya sepenuhnya tidak mampu memperhatian sesama, hanya secara eksklusif ingin menjadi 'saleh' dan hanya mau menjalani 'kewajiban-kewajiban religius' belaka, maka relasi saya dengan Allah akan kering dan layu. Itu memang baik, tapi tanpa kasih. Hanya dalam kesediaan untuk menjalin relasi dengan sesama dan menampakkan kasih kepada mereka kita akan semakin peka akan Allah. Hanya jika saya melayani sesama mata saya dapat terbuka akan apa yang Allah kerjakan pada diri saya dan mengenali betapa Dia begitu mencintai saya. Para kudus - dengan menyadari akan teladan Beata Teresa dari Calcutta - senantiasa memperbaharui ketersediaan dirinya untuk mengasihi sesama dalam perjumpaan mereka dengan Tuhan ekaristis, dan sebaliknya perjumpaan ini semakin membawanya dalam kenyataan dan kedalaman pelayanannya akan sesama. Kasih akan Allah dan kasih akan sesama dengan demikian tidak terpisahkan, mereka membentuk satu perintah tunggal. Namun keduanya hidup dari kasih Allah, yang telah terlebih dahulu mengasihi kita. Dia tidak lagi perintah yang datang dari sesuatu yang hampa dan mustahil, dari luar, melainkan tumbuh dari pengalaman rahmat kasih dari batin, kasih yang dari hakekatnya harus dibagikan kepada sesama. Kasih tumbuh melalui kasih. Kasih adalah 'illahi' karena datang dari Allah dan menjadikan kita satu dengan Allah; dengan proses penyatuan ini, dia menjadikan kita sebagai 'kita' , yang mentransendensi keterpisahan kita dan menjadikan kita satu, sampai akhirnya Allah adalah "semua di dalam semua" (1 Kor 15,28).

BAGIAN II
CARITAS
TINDAKAN KASIH GEREJA
SEBAGAI PERSAUDARAAN KASIH

Tindakan karitatif Gereja sebagai pewujudan kasih Trinitaris
19. "Jika kamu melihat kasih, kamu memandang Tritunggal", tulis Santo Augustinus . Dalam refleksi sebelumnya kita telah meletakkan perhatian kita akan Dia yang tertikam (lih Yoh 19,37; Zef 12,10), dengan memahami rencana Bapa yang, terdorong oleh kasih (lih Yoh 3,16), mengutus Putra tunggal terkasih-Nya ke dalam dunia untuk menebus umat manusia. Dengan wafat di kayu Salib - sebagaimana Santo Yohanes mengisahkannya kepada kita - Yesus " menyerahkan roh-Nya" (Yoh 19,30), sebagai persiapan akan tercurahkannya rahmat Roh Kudus setelah kebangkitan-Nya (lih Yoh 20,22). Hal ini merupakan pemenuhan janji 'aliran-aliran air hidup' yang akan mengalir dari hati umat beriman, melalui pencurahan Roh Kudus (lih Yoh 7, 38-39). Roh, kenyataannya, adalah kuasa batin yang menyatukan hati mereka dengan hati Kristus dan menuntun mereka untuk mencintai sesamanya sebagaimana Kristus mencintai mereka, ketika Dia membungkuk untuk membasuh kaki para murid-Nya (lih Yoh 13,1-13) dan terlebih lagi ketika dia memberikan hidup-Nya bagi kita (lih Yoh 13,1; 15,13).

Roh adalah pula daya kekuatan, yang mengubah hati persekutuan Gereja, sehingga menjadi tanda kesaksian di hadapan dunia akan kasih Bapa, yang menghendaki umat manusia membangun satu keluarga di dalam Putera-Nya. Keseluruhan tindakan Gereja ini merupakan ungkapan kasih, yang mencari apa yang secara mendasar merupakan sesuatu yang baik bagi umat manusia: melalui pewartaannya dalam sabda dan sakramen, yang dalam sejarahnya tidak jarang dijalankan dalam cara yang heroik; melalui upayanya untuk membantu perkembangan umat manusia dalam berbagai bidang kehidupan dan aktivitas kemanusiaan. Kasih dengan demikian adalah pelayanan yang dijalani Gereja untuk senantiasa menjumpai mereka yang menderita dan membutuhkan, termasuk kebutuhan-kebutuhan material. Aspek inilah, pelayanan kasih, yang ingin saya titik beratkan dalam bagian kedua ensiklik ini.

Karitas sebagai tugas Gereja

20. Kasih akan sesama, yang berakar pada kasih akan Allah, pertama-tama dan pada dasarnya adalah tugas setiap pribadi umat beriman, akan tetapi adalah pula merupakan misi seluruh komunitas gerejani di setiap level: dari persekutuan umat beriman lokal ke Gereja setempat dan pula sampai pada Gereja universal sebagai keseluruhannya. Sebagai persekutuan umat, Gereja harus mewujudkan kasih. Kasih membutuhkan suatu penataan, jika dimaksudkan untuk melayani komunitas. Kesadaran akan misi ini sejak awal memiliki relevansi konstitutif dalam tubuh Gereja, "Semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing" (Kis 2,44-45). Dengannya, Santo Lukas memberikan suatu bentuk perumusan akan identitas Gereja , yang unsur-unsur hakikinya mencakup kesetiaan akan 'ajaran para Rasul', 'persekutuan' (koinonia), 'memecah-mecahkan roti' dan 'doa' (lih Kis 2,42). Unsur 'persekutuan' (koinonia) pada mulanya belum secara jelas terumuskan, namun tampak secara konkret dalam ayat yang dikutip di atas: bahwa dalam kenyataannya umat beriman memiliki semua secara bersama, dan di antara mereka tidak ada pembedaan antara yang kaya dan yang miskin (juga lihat Kis 4,32-37). Ketika Gereja semakin berkembang, bentuk radikal kebersamaan material tidak dapat lagi diwujudkan. Akan tetapi inti dasarnya tetap: di dalam komunitas umat beriman tidak ada ruang bagi kemiskinan, penolakan akan seseorang yang membutuhkan sesuatu untuk martabat hidupnya.

(bersambung) ke www.karina.or.id/deus-caritas-est-bahasa-indonesia2