Pengurangan Resiko Bencana (PRB)

in

Program Pengurangan Resiko Bencana mulai dikembangkan KARINA berdasarkan pengamatan dan pengalaman bahwa solidaritas aksi bagi masyarakat warga, yang menjadi penyintas dari berbagai kejadian bencana di Indonesia seringkali terlambat mencegah hilangnya nyawa, sumber penghidupan dan harta benda, kerusakan infrastruktur dan lingkungan. Solidaritas aksi bukan lagi semata-mata mengumpulkan dan menyalurkan barang bantuan bagi para penyintas.

Hal itu harus dimulai dengan memahami potensi bahaya (alam/non alam) di dimana sebuah komunitas basis masyarakat warga berada, serta mengetahui tingkat kerentanan dan kapasitas yang ada. Upaya-upaya mengurangi kerentanan dan mengatasi sumber-sumber kerentanan dan meningkatkan kapasitas perlu dilakukan demi mengurangi resiko bencana di waktu yang akan datang.

KARINA menggunakan pendekatan Pengurangan Resiko Bencana yang Dikelola oleh Masyarakat, dimana komunitas basis masyarakat warga, ambil peran kunci dalam perencanaan, pelaksanaan, pengawasan dan evaluasi inisiatif-inisiatif pengurangan resiko bencana yang mereka kerjakan. Pelaksana tugas adalah unit PRB Karina  yang  membantu karya kemanusiaan lembaga-lembaga Caritas/Sosiopastoral Keuskupan penerima mandat dari para Uskup Gereja Katolik dalam bidang pengurangan resiko bencana. 

Pada periode 2008 - 2010, Karina bersama lembaga-lembaga Caritas Keuskupan di Indonesia secara berjejaring melakukan penguatan basis di tingkat lembaga untuk melakukan kegiatan pengurangan resiko bencana yang dikelola oleh masyarakat di setiap wilayah kerja masing-masing. Aktivitas ini dilakukan melalui serangkaian fasilitasi pembelajaran bersama, pertukaran pengalaman lapangan dan pemberian bantuan teknis. Di akhir program, diharapkan, kemampuan teknis staf PRB lembaga-lembaga Caritas/Sosiopastoral Keuskupan yang didukung oleh basis kelembagaan yang memadai, akan meningkatkan kualitas pelayanan lembaga-lembaga Caritas/Sosiopastoral Keuskupan pada komunitas basis masyarakat warga dalam memfasilitasi inisiatif-inisiatif pengurangan resiko bencana yang dikelola oleh masyarakat.

Program EA Bengkulu dan Mentawai
Paska gempa September 2007 yang mengguncang pantai barat Pulau Sumatra, Karina bekerjasama dengan Yayasan Pansos Bengkulu (Karina Kapal) dan ERT (Emergency Response Team) Padang melaksanakan program rekonstruksi di wilayah yang mengalami dampak gempa. Program rekonstruksi ini memasukkan unsur desain anti gempa di tiap rumah yang dibangun. Selain rekonstruksi, Pengurangan Resiko Bencana juga menjadi salah satu program yang diimplementasikan di wilayah ini. Program PRB ini dilakukan melalui mekanisme pelatihan secara partisipatif dengan warga dampingan setempat dan lembaga-lembaga desa terkait.